Dunia
Imajinasi
Pada sore hari menjelang lelehnya senjakala di tepian
lazuardi merah , di barengi suara kumandang adzan dari masjid . Seluruh
aktifitas orang-orang dan anak-anak berhenti dan mereka semua kembali ke rumah .
kecuali aku dan teman ku Galih, kita terus saja mengayuh sepeda kita menjauhi
rumah kita tanpa mengetahui apa sebenernya tujuan Galih mengajak ku .
Langit semakin gelap dan desir angin terasa menusuk kulit
ku . Aku mulai cemas apakah aku bisa kembali kerumah , belokan , tanjakan dan
turunan terus aku lewati, entah apa yg ada di pikiran Galih apakah dia merasa
cemas seperti aku tapi dari raut wajahnya sama sekali tidak nampak wajah cemas
atau takut . rasa penyesalan mulai menyelimuti hati dan pikiran ku pasti
orantua ku sedang mencemaskan anaknya ini.
Saat sampai di pertigaan yang gelap tanpa cahaya lampu yg
ada hanya cahaya bulan yg membantu menerangi jalan , Galih tiba-tiba berhenti
dan terdiam , aku bertanya kepadanya “kenapa kita berhenti ?” dia hanya diam .
aku bertanya lagi “ kemana sebenernya kita pergi gal ??” dia menjawab “ ke
sebuah jembatan yg menuju ketempat di mana kamu tidak akan sempat berkedip ,
tidak dapat merasakn keringat mengalir di kulit mu , dan tidak bisa bergerak ,
badan mu akan menjadi seperti patung batu !” mendengar jawbannya aku sedikit
bingung dan bertanya-tanya tempat macam apa itu , tapi membuat ku menjadi
penasaran.
Aku terus mengikuti Galih dari belakang , udara pun
semakin dingin dan entah jam berapa sekarang tapi sepertinya sudah larut malam
. Tiba-tiba mauklah kita kesebuah hutan yg sangat menyeramkan . Galih melihat
ke arah ku dan mengatakan “ kita sudah setengah perjalanan” aku tidak terlalu
mendengarkannya karna aku sangat merasa takut pada apa yg akan kita hadapi dan
kita temui di dalam hutan itu,”apa aku bisa pulang yaa?”aku bertanya pada
diriku sendiri.
Setelah masuk ke hutan Galih bicara padaku agar tidak
berteriak , tidak berbicara kasar, tidak boleh merusak , dan yg paling penting
tidak boleh membawa apapun dari hutan ini karna akan terjadi hal yg sangat
buruk , gunakan saja imajinasi , insting dan otak mu agar bisa selamat. Aku
mengiyakan saja . kita sudah tidak menaiki sepeda hanya menuntunya saja. Hutan
itu sangat gelap dan di tumbuhi pohon-pohon yg sangat besar , sehingga menutupi
cahaya bulan yg merupakan satu-satunya sumber cahaya kita. Galih mengambil
sebuah ranting yg jatuh untuk kita pegang di kedua sisi nya agar kita tidak
terpencar.
Suara burung dan dan serangga-serangga semakin membuat ku
takut . Tiba-tiba sebuah ranting jatuh dari atas di barengi sebuah kelelawar yg
berterbangan di hadapan ku , aku terkejut tapi aku tidak berteriak karna aku
ingat kata-kata Galih. Lalu aku tersadar bahwa Galih tidak lagi ada di depan ku
. aku sangat takut , apa yg harus aku lakukan , aku bahkan tidak tahu dimana
aku berada dan aku harus kemana . aku duduk terdiam sambil berfikir apa yg akan
aku lakukan , aku mencoba mengingat-ingat ciri-ciri tempat yg dikatakan Galih
karena secar logika itu merupakan satu-satu nya cara untuk bertemu lagi dengan
Galih, aku bergumam “tadi dia berkata
dia pergi kesebuah jembatan “ aku merenung kan kata-kata itu “sebuah jembatan
ya.. jembatan itu kan sebuah penghubung saebuah wilayah ke wilayah lain yg tidak
bisa di tuju hanya dengan jalan kaki karna harus melewati sebuah jurang atau
sungai untuk sampai ke sebrangnya. Dan di sungai itu terdapat air bukan!” aku
mencoba memfokuskan fikiran ku ke indra pendengaran ku , ternyata aku mendengar
sebuah suara arus air , aku mencoba untuk mengikuti arah suara itu berada. Dan
akhirnya aku menemukan sungai itu tapi aku tidak menemukan ada jembatan di situ
, aku terus menelusuri aliran sungai itu untuk mencari jembatan itu sambil
berharap Galih tidak meninggalkan ku. Sudah lelah aku berjalan akhirnya aku melihat
sepeda Galih yg di senderkan di sebuah pohon yg terdapat seutas tali tambang di
salah satu dahannya, aku bergumam” apabila sepedanya di sini pasti dia sudah
menyebbrangi jembatannya tapi di mana jembatan nya ?” sambil aku menoleh ke
kanan dan ke kiri dan yg aku dapat kan hanya seutas tali tambang ini . “apakah
tali tambang ini yg di maksut jembatannya oleh Galih ?” fikir ku , lalu aku
meraih tali itu dan bertekad untuk berayun dengan tali itu untuk sampai ke
sebrang , aku berharap semoga keputusan ku tidak salah , akhirnya aku berayun
dan sampai ke sebrang.
Sesampainya di sebrang aku berjalan sambil kebingungan
karna tiba tiba sudah siang . aku mencoba untuk beristirahat sejenak duduk di
sebuah batu , saat aku duduk aku berfikir sambil mencabuti lumut yg ada di batu
itu, aku terkejut tiba tiba batu itu bergerak dan berdiri tegak membentuk wujud
seperti kakek-kakek yg memakai jubah dan membawa tongkat tampak seperti seorang
penyihir , aku terjatuh dan kebingungan “mahluk apa itu?!” gumam ku dalam hati
, aku berlari sekuat tenaga menjauhi mahluk itu , saat aku terdiam karna cape
mahluk itu menembakan sinar dari tongkat nya ke arah ku tapi meleset dan
mengenai pohon . aku terkejut karna pohon itu menjadi batu , aku berfikir”
apakah itu maksut kata-kata Galih bahwa aku tidak akan sempat untuk berkedip
karena harus menghindari mahluk itu , aku tidak akan merasakan keringat , dan
badan ku akan seperti patung batu apabila aku terkena sihir dari mahluk itu”
aku terus berlari sekuat yg ku bisa tiba-tiba kaki ku tersangkut di sebuah akar
pohon dan terjatuh . mahluk itu pun sudah dekat dan sudah ingin menyihir ku
tapi tiba-tiba galih datang dengan membawa sebuah pedang dan perisai seperti yg
di gunakan pasukan islam pada perang salib , dan di sebelahnya juga ada pedang-pedang
yg bergerak tanpa ada yg memegangnya , mereka bertarung melawan mahluk batu itu
. aku sangat bingung dan heran “aku bermimpi atau bagaimana” .
Setelah mahluk batu itu dapat di kalahkan aku bertanya
“mahluk apa tadi itu ?” dia menjawab “itu adalah penjaga jembatan yg tadi kamu
gunakan untuk sampai kesini.” Lalu Galih
membawa ku ke sebuah rumah pohon . sesampai nya di rumah pohon aku bertanya
“dari mana kamu mendapat baju zirah , perisai dan pedang seperti itu ??” dia
menjawab “aku sudah bilang untuk gunakan imajinasi mu, tempat ini adalah tempat
di mana imjanisi mu dapat menjadi kenyataan, contohnya saat kamu datang ke
tempat ini, tempat ini menjadi siang itu karena kamu sangat ingin tempat ini
menjadi terang. cobalah untuk berimajinasi lagi , bayangkan bahwa rumah pohon
ini adalah kastil yg sangat megah dengan banyak pasukan infantry di bawah dan
ratusan archer di dua pohon di depan itu” aku mencobanya tapi tidak ada yg
berubah sama sekali aku terus mencoba tapi tetap tidak berhasil “bayngkan di bawah
ada kasur yg sangat empuk !” kata Galih
, aku mencobanya, tiba-tiba dia menendang ku dan aku terjatuh dari rumah
pohon itu tapi aku terheran ketika ternyata ada kasur itu di bawah aku hanya
bisa terheran dan bingung . melihat ku kebingungan dia berkata “tempat ini
membutuh pemimpin yg imajinatif dan aku tidak mau menjadi satu-satunya pemimpin
disini. Dia mengajak ku pulang dan tiba-tiba dia sedang duduk di atas sebuah
kuda aku masih tidak mengerti dengan cara kerja tempat ini .
Setelah sampai di tempat tali aku datang tadi, kita berdua menyebrangi sungai itu lagi
dengan berayun dengan tali itu . setelah sampai sebrang, baju zirah yg di gunakan nya pun hilang
menjadi debu . kita berdua kembali pulang ke rumah kita masing masing , setelah
sampai rumah aku terkejut karena tenyata aku hanya pergi satu jam dari adzan
maghrib tadi, padahal aku sudah melewati 2 kali pergantian waktu . Saat aku
hendak ganti baju karena ingin melaksanakan solat isya , aku teringat peraturan
di hutan tadi bahwa “tidak boleh membawa apapun dari hutan tadi atau hal yg
buruk akan terjadi” dan ternyata sebuah daun menempel di badan ku dan aku sudah
melanggar peraturan itu.......